KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ،
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ
تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ
وَالْبَاطِنَةِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَهِدَايَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, serta inayah-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk menghela napas, menggerakkan langkah kaki menuju rumah-Nya yang mulia ini, dan bersimpuh dalam ibadah Jumat yang penuh berkah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam artian yang sebenar-benarnya: menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, tidak ada bekal yang lebih mulia untuk dibawa menghadap Sang Khalik selain ketakwaan yang menghujam dalam sanubari.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Tanpa
kita sadari, sang waktu terus berlari kencang. Detik berganti menit, hari
berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Saat ini, kita berada di ambang
senja tahun 1447 Hijriah. Ibarat matahari yang mulai condong ke ufuk barat,
lembaran-lembaran kalender tahun ini akan segera kita tutup. Kita sedang
berdiri di sebuah persimpangan waktu, di mana masa lalu akan segera menjadi
kenangan, dan masa depan masih menjadi rahasia Tuhan.
Dalam
suasana transisi ini, ada satu ibadah hati yang sangat ditekankan dalam Islam,
yaitu Muhasabah atau audit diri. Sebagaimana seorang pedagang yang
melakukan audit keuangan di akhir tahun untuk mengetahui untung dan ruginya,
maka kita sebagai hamba Allah jauh lebih berkepentingan untuk melakukan audit
atas modal utama kita, yaitu umur dan amal perbuatan kita.
Allah
SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا
اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.
Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." QS. Al
Hasyr : 18
Ayat ini adalah fondasi utama bagi kita untuk melakukan introspeksi. Allah memerintahkan kita untuk "memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok". Kalimat "hari esok" dalam ayat ini bukan sekadar bermakna besok pagi atau tahun depan secara kalender duniawi, melainkan merujuk pada kehidupan akhirat yang kekal abadi. Namun, untuk sampai ke sana, kita harus melewati terminal-terminal waktu di dunia, termasuk pergantian tahun Hijriah ini.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mengapa kita harus mengaudit hati kita? Karena hati adalah pusat komando bagi seluruh anggota tubuh. Jika hatinya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika hatinya kotor, maka rusaklah seluruh perilakunya. Di ambang senja 1447 H ini, mari kita ajukan beberapa pertanyaan besar kepada diri kita sendiri:
Pertama, Audit Shalat Kita. Selama setahun ini, bagaimanakah kualitas shalat lima waktu kita? Apakah kita masih sering menunda-nundanya? Apakah kita melaksanakannya hanya sekadar menggugurkan kewajiban tanpa ada rasa khusyuk dan kehadiran hati? Ingatlah bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab kelak.
Kedua, Audit Lisan Kita. Berapa banyak kata-kata yang keluar dari lisan kita selama 1447 H ini yang justru melukai hati orang lain? Berapa banyak ghibah, fitnah, atau kebohongan yang telah kita produksi? Ataukah lisan ini sudah lebih banyak basah dengan dzikir dan kalimat-kalimat thayyibah?
Ketiga, Audit Hubungan Sosial Kita. Bagaimana hubungan kita dengan orang tua, pasangan, anak-anak, tetangga, dan rekan kerja? Adakah hak-hak mereka yang masih kita abaikan? Adakah dendam yang masih kita simpan rapat di sudut hati yang membuat hidup kita tidak tenang?
Keempat, Audit Harta Kita. Dari mana harta kita peroleh selama setahun ini? Apakah
ada campur tangan kebatilan di dalamnya? Dan ke mana harta itu kita belanjakan?
Sudahkah zakatnya tertunaikan? Sudahkah sedekahnya mengalir secara rutin?
Rasulullah
SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ
نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ
هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
"Orang yang cerdas (sukses) adalah
orang yang mampu mengaudit dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah
mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya
kemudian ia berangan-angan kepada Allah." HR. At
Tirmidzi
Hadits ini memberikan pelajaran berharga bahwa kecerdasan yang hakiki bukan diukur dari tingginya gelar akademik atau kesuksesan finansial semata. Kecerdasan sejati adalah kemampuan seseorang untuk "menghukum" atau mengevaluasi dirinya sendiri (dana nafsahu) sebelum ia nanti dihakimi oleh Allah SWT di Padang Mahsyar.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah memberikan nasihat emas yang sangat masyhur: "Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu" — Hisablah (auditlah) diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah. Mengapa ini penting? Karena audit di dunia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki kesalahan. Jika kita menemukan "defisit" amal, kita masih bisa menutupinya dengan taubat dan istighfar. Jika kita menemukan "piutang" kesalahan kepada sesama manusia, kita masih bisa meminta maaf.
Namun,
jika audit itu baru dilakukan di akhirat kelak, maka tidak ada lagi ruang untuk
perbaikan. Semuanya sudah final. Lembaran amal akan dibagikan, dan setiap orang
akan membaca kitabnya masing-masing dengan penuh ketakutan atau kegembiraan.
Allah
SWT menggambarkan suasana tersebut dalam Surah Al-Kahfi ayat 49:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ
فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا
مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا
أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
"Dan diletakkanlah kitab (catatan
amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap
apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: 'Aduhai celaka kami, kitab
apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,
melainkan ia mencatat semuanya.' Dan mereka dapati (semua) apa yang telah
mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua
pun."QS. Al Kahfi : 49
Bayangkan, Saudaraku, jika di akhir 1447 H ini kita membuka "buku laporan" kita. Apakah isinya lebih banyak dipenuhi dengan ketaatan, ataukah justru dipenuhi dengan kelalaian? Apakah waktu-waktu luang kita gunakan untuk scrolling media sosial yang tidak bermanfaat, atau kita gunakan untuk tadabbur ayat-ayat-Nya?
Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang menyesal di hari tua atau di ambang maut, baru menyadari bahwa modal umur yang Allah berikan telah habis sia-sia tanpa investasi akhirat yang memadai. Tahun 1447 H ini adalah bagian dari umur kita yang telah terpotong dan tidak akan pernah kembali lagi. Setiap detik yang lewat adalah langkah kita yang semakin mendekat ke liang lahat.
Hadirin Sidang Jumat yang Berbahagia,
Dalam Madzhab Syafi'i, kita diajarkan bahwa niat dan keikhlasan hati adalah ruh dari setiap amal. Maka, audit hati ini juga harus menyentuh aspek niat. Apakah selama setahun ini amal shaleh kita lakukan murni karena Allah (lillahi ta'ala), ataukah ada selipan riya' (pamer), sum'ah (ingin didengar), atau ujub (bangga diri)?
Marilah kita manfaatkan sisa hari di bulan Dzulhijjah ini untuk benar-benar bersimpuh. Menangislah di hadapan Allah atas dosa-dosa yang kita lakukan secara sengaja maupun tidak. Akuilah kelemahan kita. Katakanlah: "Ya Allah, tahun 1447 H ini akan segera berlalu, namun hamba merasa bekal hamba masih sangat sedikit, sementara dosa hamba setinggi gunung. Ampunilah hamba, ya Ghafur."
Audit hati ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membangkitkan optimisme baru. Dengan mengetahui kekurangan kita di tahun ini, kita bisa merancang strategi ibadah yang lebih baik untuk tahun 1448 H yang akan datang. Kita ingin tahun depan menjadi tahun di mana kualitas iman kita naik kelas, akhlak kita semakin mulia, dan kontribusi kita bagi sesama semakin nyata.
Semoga
Allah SWT menerima amal ibadah kita sepanjang tahun 1447 Hijriah ini,
mengampuni segala khilaf dan dosa kita, serta memberikan kekuatan kepada kita
untuk melangkah memasuki tahun baru dengan semangat ketakwaan yang lebih
membara.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ
فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ،
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di
khutbah yang kedua ini, marilah kita kembali meneguhkan komitmen kita sebagai
hamba Allah. Audit hati yang kita lakukan di ambang senja 1447 H ini harus
membuahkan tiga hal utama:
At-Taubah
(Taubat): Memohon ampun atas segala dosa masa lalu dan berjanji tidak
akan mengulanginya.
Al-Istiqamah
(Konsistensi): Mempertahankan amalan-amalan baik yang sudah kita mulai di
tahun ini agar tidak terputus di tahun depan.
Al-Ishlah
(Perbaikan): Memperbaiki segala kekurangan dan meningkatkan intensitas
ibadah kita, baik ibadah mahdhah (seperti shalat dan puasa) maupun ibadah
sosial (seperti sedekah dan menolong sesama).
Mari
kita tutup tahun ini dengan akhir yang baik (husnul khatimah). Sebab, amal itu sangat bergantung pada akhirnya.
Jangan biarkan sisa waktu di tahun 1447 H ini berlalu begitu saja tanpa makna.
Akhirnya,
marilah kita menundukkan kepala, merendahkan hati, seraya bermunajat kepada
Allah SWT. Semoga Dia senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus.
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي
الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِينَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ
عَامَنَا هَذَا الْقَادِمَ عَامَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، وَعَامَ أَمْنٍ وَسَلَامَةٍ
لَنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا
وَأَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ.
