Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wassholatu wasshalamu 'ala asyrofil anbiya-i wal mursalin, wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudara-saudari jamaah sekalian yang dirahmati Allah. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT, diberikan kesehatan, dan yang paling penting, diberikan hidayah untuk selalu menjaga lisan dan perbuatan kita.
Sambil santai sejenak setelah ibadah ini, mari kita mengobrol tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kita semua. Apa itu? Handphone atau smartphone. Sekarang ini, hampir tidak ada orang yang tidak punya HP. Bangun tidur yang dicari HP, mau tidur yang dilihat HP. Di dalam benda kecil ini, informasi mengalir deras seperti air bah. Tapi sayangnya, tidak semua air yang mengalir itu bersih. Banyak sekali "limbah" informasi yang kita sebut dengan hoax atau berita bohong.
Satu Jempol, Beribu Fitnah
Jamaah sekalian, kita sering menganggap remeh satu klik tombol "share" atau "bagikan". Kita pikir, "Ah, cuma berbagi informasi, kalau salah ya tinggal hapus." Padahal, dalam Islam, dampaknya tidak sesederhana itu. Membuat dan menyebarkan hoax adalah bentuk nyata dari kadzib (berbohong) dan fitnah yang dampaknya bisa merusak tatanan masyarakat, memutus silaturahmi, bahkan memicu pertumpahan darah.
Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Quran agar kita selalu melakukan tabayyun atau verifikasi sebelum mempercayai apalagi menyebarkan sebuah berita. Mari kita simak firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."QS. Al-Hujurat: 6
Ayat ini adalah protokol resmi dari Allah untuk kita semua. Kenapa kita harus tabayyun? Karena kalau kita asal sebar, lalu ternyata berita itu salah dan merugikan orang lain, kita akan terjatuh dalam penyesalan yang mendalam. Penyesalan di dunia mungkin bisa selesai dengan minta maaf, tapi penyesalan di akhirat? Itulah yang harus kita takuti.
Sanksi dari Sisi Agama: Dosa Jariyah yang Tak Terputus
Bapak dan Ibu sekalian, ada satu konsep yang sangat mengerikan bagi penyebar hoax, yaitu Dosa Jariyah. Kalau ada amal jariyah yang pahalanya mengalir meski kita sudah wafat, maka ada juga dosa jariyah yang dosanya terus mengalir selama berita bohong itu masih dibaca dan dipercayai orang lain.
Bayangkan, Anda membuat satu berita bohong tentang seseorang atau suatu kelompok. Berita itu dibagikan oleh 100 orang. Dari 100 orang itu, masing-masing membagikan ke 100 orang lagi. Begitu seterusnya. Meskipun Anda sudah minta maaf atau bahkan sudah meninggal dunia, dosa dari fitnah yang terus berputar itu tetap mengalir ke "rekening" akhirat Anda. Naudzubillahi min dhalik.
Rasulullah SAW bersabda mengenai bahayanya asal bicara atau asal sebar informasi tanpa dasar yang jelas:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang dia dengar." HR. Muslim (No. 5)
Hadits ini sangat relevan dengan budaya copy-paste jaman sekarang. Kita dengar sesuatu yang "panas", langsung sebar. Kita baca judul berita yang "klik-bait", langsung share ke grup keluarga tanpa membaca isinya. Kata Rasulullah, itu sudah cukup untuk membuat kita dicap sebagai pembohong di sisi Allah.
Sanksi di akhirat bagi para pembohong dan pembuat fitnah sangatlah berat. Dalam hadits tentang peristiwa Isra' Mi'raj, Rasulullah diperlihatkan orang-orang yang mulutnya dirobek hingga ke tengkuk karena mereka menyebarkan berita bohong yang mencapai ufuk (tersebar luas). Inilah gambaran betapa Allah murka terhadap mereka yang merusak kehormatan orang lain dengan berita palsu.
Sanksi Hukum di Indonesia: Penjara Menanti di Dunia
Selain ancaman siksa api neraka, negara kita Indonesia juga sangat serius menangani masalah hoax ini. Kita hidup di negara hukum, dan Islam mewajibkan kita untuk taat kepada pemimpin (pemerintah) selama tidak bermaksiat.
Dalam hukum positif di Indonesia, penyebar hoax bisa dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Berdasarkan UU No. 19 Tahun 2016 (perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008) dan revisi terbarunya:
Pasal 28 ayat (1): Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik dapat dipidana.
Pasal 45A ayat (1): Pelanggarnya bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.
Jika hoax tersebut mengandung unsur SARA atau provokasi kebencian, ancamannya bisa lebih berat lagi.
Jadi, secara duniawi kita bisa masuk penjara dan jatuh miskin karena denda, secara ukhrawi kita terancam siksa neraka. Benar-benar kerugian yang bertubi-tubi bagi orang yang tidak menjaga jempolnya.
Hikmah dan Pelajaran
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Sebagai hamba Allah yang beriman, mari kita terapkan prinsip "Saring sebelum Sharing". Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan tiga hal pada diri sendiri:
Apakah berita ini benar? (Sudahkah saya cek dari sumber resmi atau media yang terpercaya?)
Apakah berita ini bermanfaat? (Kalau benar tapi cuma aib orang lain, itu namanya ghibah. Tetap dosa disebarkan.)
Apakah berita ini mendatangkan kegaduhan? (Jika disebarkan malah membuat orang bertengkar, lebih baik diam.)
Mari kita jadikan media sosial kita sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa. Gunakan HP kita untuk menyebarkan ayat suci, nasihat kebaikan, dan kabar gembira, bukan fitnah dan kebencian.
Penutup dan Doa
Sebagai penutup, mari kita menundukkan kepala sejenak, memohon perlindungan kepada Allah agar lisan dan tangan kita terjaga dari kesalahan.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil 'alamin.
Ya Allah, Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, bimbinglah lisan dan jempol kami agar hanya mengucapkan dan membagikan kebenaran. Jauhkanlah kami dari fitnah, jauhkanlah kami dari keinginan untuk menyakiti sesama dengan berita bohong. Ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, baik yang kami sengaja maupun tidak kami sengaja dalam menggunakan teknologi ini.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adza bannar. Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wasalamun 'alal mursalin, walhamdulillahirabbil 'alamin.
Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangan. Kebenaran datangnya dari Allah, dan kesalahan murni dari kekhilafan saya pribadi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Posting Komentar untuk "Konsekuensi Berat Bagi Pembuat dan Penyebar Hoax"