KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ
تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيقِهِ
تَتَحَقَّقُ الطَّاعَاتُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ
الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَأَشْهَرُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Mengawali khutbah
yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah
sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita
kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan
segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya
dengan penuh kesadaran. Sebab, tidak ada bekal yang lebih mulia untuk menghadap
Allah selain ketaqwaan, dan tidak ada kunci keberkahan hidup di dunia melainkan
dengan menjaga hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Sidang
Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam menjalani
kehidupan di dunia yang fana ini, seringkali kita terjebak dalam pusaran
rutinitas yang melalaikan. Kita mengejar dunia seakan-akan kita akan hidup
selamanya, namun kita seringkali melupakan Sang Pemberi Rezeki yang mengatur
detak jantung dan nafas kita. Salah satu fenomena yang kian memprihatinkan di
tengah masyarakat kita saat ini adalah kebiasaan menunda-nunda panggilan Allah
SWT, khususnya dalam menunaikan ibadah shalat lima waktu.
Padahal, shalat
adalah tiang agama, barometer utama keislaman seseorang, dan amalan pertama
yang akan dihisab pada hari kiamat kelak. Namun, kenyataannya, ketika suara
adzan berkumandang—sebuah panggilan suci yang mengundang kita menuju kemenangan
(Hayya 'alal falah)—banyak
di antara kita yang masih terpaku di depan layar smartphone, terlelap dalam tidur yang tidak
perlu, atau asyik bercengkerama dengan urusan duniawi yang seolah tidak ada
habisnya.
Jamaah
Shalat Jumat yang berbahagia,
Ketahuilah, bahwa
setiap kali kita menunda panggilan Allah, secara tidak sadar kita sedang
menunda turunnya keberkahan dalam hidup kita sendiri. Allah SWT telah
memberikan peringatan keras dalam Al-Qur'an mengenai orang-orang yang
melalaikan shalatnya. Mari kita tadabburi firman Allah dalam Surah Al-Ma'un
ayat 4-5:
فَوَيْلٌ
لِّلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
"Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya." QS. Al-Ma'un: 4-5
Para ulama tafsir
menjelaskan bahwa makna "saahuun"
atau lalai dalam ayat ini bukan hanya merujuk pada orang yang meninggalkan
shalat secara total, melainkan juga mencakup mereka yang meremehkan waktu
shalat. Mereka yang sengaja mengulur-ulur waktu hingga hampir habis, mereka
yang lebih mengutamakan tidur padahal waktu shalat sudah tiba, dan mereka yang
tidak merasa berdosa ketika panggilan Allah diabaikan demi kesenangan sesaat.
Pola hidup yang
menunda-nunda shalat ini memiliki dampak psikologis dan spiritual yang sangat
besar. Ketika seseorang terbiasa menunda kewajiban yang paling utama terhadap
Tuhannya, maka akan tumbuh benih-benih kemalasan (al-kasal) dalam jiwanya. Kemalasan ini tidak
berhenti pada urusan ibadah saja, melainkan akan merembet ke seluruh sendi
kehidupannya.
Seorang pelajar
yang sering menunda shalat demi bermain game
atau media sosial, akan cenderung menunda-nunda tugas sekolahnya. Seorang
pekerja yang mengabaikan panggilan adzan karena merasa tanggung dengan
pekerjaannya, justru akan mendapati pekerjaannya tidak kunjung selesai dengan
hasil yang berkah. Mengapa demikian? Karena dia telah memutus keberkahan di
awal waktunya. Dia mencari rizki dari Allah, namun dia mengabaikan Sang Pemilik
Rizki ketika dipanggil.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Rasulullah SAW
sangat menekankan pentingnya shalat di awal waktu. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Mas'ud RA pernah
bertanya kepada Rasulullah SAW:
أَيُّ الْعَمَلِ
أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»
"Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau bersabda: 'Shalat pada waktunya'. HR. Bukhari (No. 527) dan Muslim (No. 85
Coba kita
renungkan, jika Allah Sang Pencipta alam semesta saja sangat mencintai hamba
yang shalat tepat waktu, maka logikanya, Allah akan memberikan kemudahan,
kelapangan, dan keberkahan bagi hamba tersebut dalam urusan dunianya.
Sebaliknya, jika kita membuat Allah "menunggu" dengan menunda shalat,
jangan heran jika urusan hidup kita, urusan hutang kita, urusan jodoh kita,
atau urusan karir kita juga dibuat "menunggu" oleh Allah SWT.
Dampak buruk dari
menunda shalat karena asyik bermain handphone atau tidur adalah hilangnya
kedisiplinan diri. Shalat lima waktu sebenarnya didesain oleh Allah sebagai
sarana manajemen waktu yang paling efektif. Jika kita mampu disiplin mengikuti
jadwal shalat, maka secara otomatis ritme hidup kita akan teratur. Namun,
ketika ritme ini dirusak, maka hancurlah kedisiplinan tersebut. Kita menjadi
pribadi yang lamban, tidak memiliki skala prioritas, dan mudah merasa lelah
meskipun tidak melakukan pekerjaan berat. Itulah yang disebut dengan hilangnya Barakah dalam waktu.
Sidang
Jumat yang dirahmati Allah,
Seringkali kita
beralasan, "Nanti saja shalatnya, tanggung lagi seru scroll TikTok,"
atau "Nanti saja, lagi asyik nonton film," atau "Lima menit
lagi, masih ngantuk." Tahukah kita, bahwa lima menit yang kita gunakan
untuk menunda panggilan Allah itu adalah celah bagi setan untuk mengikat hati
kita dengan kemalasan? Rasulullah SAW bersabda mengenai pengaruh tidur dan
kemalasan yang berkaitan dengan dzikir kepada Allah:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ
عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ... فَإِنِ
اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ
عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ
النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ
"Setan membuat tiga ikatan di tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur... Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, lepaslah ikatan lainnya. Dan jika ia shalat, lepaslah semua ikatan itu, sehingga pada pagi hari ia menjadi bersemangat dan berjiwa baik. Jika tidak, maka ia akan berbudi buruk dan malas." HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini
menjelaskan secara gamblang bahwa shalat—terutama shalat tepat waktu—adalah
kunci produktivitas. Orang yang menjaga shalatnya akan memiliki jiwa yang thayyib (baik) dan nasyith (bersemangat).
Sedangkan mereka yang menunda-nunda dan bermalas-malasan akan mendapati dirinya
khabitsan nafsi
(berjiwa buruk) dan kaslan
(malas). Inilah jawaban mengapa banyak orang saat ini merasa stress, merasa waktunya
selalu kurang, dan merasa pekerjaannya berat, padahal barangkali itu semua
berakar dari kelalaian mereka terhadap panggilan adzan.
Oleh karena itu,
marilah kita introspeksi diri. Berapa banyak keberkahan yang hilang karena kita
lebih memilih membalas pesan WhatsApp daripada menyambut panggilan Sang Khaliq?
Berapa banyak peluang sukses yang tertutup karena kita lebih memilih tidur
sejenak daripada bersujud di hadapan Allah? Sesungguhnya, dunia ini akan
mengejar orang-orang yang mengejar akhirat, namun dunia akan lari dan
melelahkan orang-orang yang hanya mengejar dunia dengan mengabaikan akhiratnya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan lahir dan batin untuk dapat menjaga shalat kita di awal waktu, menjauhkan kita dari sifat malas, dan memberkahi setiap detik sisa usia kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ،
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ.
KHUTBAH
KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Jamaah
Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada khutbah
kedua ini, mari kita kuatkan tekad kita untuk melakukan perubahan. Keberkahan
hidup tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dijemput dengan ketaatan.
Jika hari ini kita masih merasa sering menunda shalat karena asyik dengan gadget atau karena rasa
kantuk yang menipu, mulailah untuk melatih diri. Jadikan suara adzan sebagai deadline tertinggi dalam
hidup kita. Tidak ada urusan yang lebih penting daripada menghadap Allah.
Ingatlah, bahwa
waktu yang kita miliki sangat terbatas. Kita tidak pernah tahu apakah adzan
yang kita dengar hari ini adalah panggilan untuk shalat, ataukah itu adalah
pertanda bahwa sebentar lagi kita akan dishalatkan. Maka, jangan tunda lagi. Perbaiki
shalat kita, maka Allah akan memperbaiki hidup kita. Mudahkan urusan Allah
dalam ibadahmu, maka Allah akan memudahkan urusanmu dalam pekerjaan, studi, dan
keluargamu.
Marilah kita
akhiri khutbah ini dengan memohon kepada Allah SWT agar kita digolongkan
sebagai hamba-hamba-Nya yang muqimus
shalah (penegak shalat) dan dijauhkan dari segala sifat malas yang
menghambat keberkahan hidup.
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ،
وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَثَاقِلِينَ عَنِ الصَّلَاةِ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ
اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
