Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sahabat-sahabatku
yang dimuliakan Allah, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga iman kita tetap
kokoh dan hati kita selalu dijaga dalam keikhlasan. Sambil santai sejenak, mari
kita merenung tentang sebuah fenomena yang pelan-pelan mulai merayap di tengah
masyarakat kita. Fenomena ini unik, halus, tapi kalau dibiarkan bisa merusak
tatanan pahala kita. Saya menyebutnya sebagai "Akhlak Transaksional".
Pernahkah kita mendengar kalimat seperti ini: "Saya sudah baik sama dia, tapi kok dia nggak balas ya? Mulai sekarang saya nggak mau bantu dia lagi," atau mungkin dalam ibadah kita berbisik, "Ya Allah, saya sudah sedekah banyak hari ini, kok proyek saya belum gol juga?" bisa Juga "dia sudah ku jenguk ketika sakit, tapi dia gak junguk ketika aku sakit".
Nah, di sinilah letak masalahnya. Akhlak transaksional adalah sebuah sikap di mana seseorang melakukan kebaikan bukan karena dorongan iman atau cinta kepada Allah, melainkan karena mengharap imbalan instan. Jika ada untungnya, dia berbuat baik. Jika tidak menguntungkan secara materi atau kedudukan, dia akan bersikap acuh tak acuh. Jika mendapat ucapan terima kasih, maka bersemangat jika tidak maka malas. Ini tentu sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Bukan
Ajaran Islam, Bukan Pula Akhlak Nabawi
Dalam Islam,
dasar dari segala amal adalah Ikhlas.
Ikhlas itu artinya memurnikan tujuan. Kita berbuat baik karena Allah
memerintahkannya, bukan karena kita sedang berinvestasi agar orang tersebut
membalas budi kepada kita suatu saat nanti. Akhlak transaksional justru
mengubah hubungan antarmanusia yang seharusnya didasari kasih sayang menjadi
hubungan "hitam di atas putih" layaknya pedagang di pasar.
Mari kita simak
apa yang Allah tegaskan dalam Al-Qur'an mengenai karakter hamba-hamba-Nya yang
mulia (Al-Abrar) ketika mereka memberikan bantuan kepada sesama:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا
نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu." QS. Al-Insan: 9
Ayat ini adalah
"tamparan" keras bagi kita yang masih sering menghitung-hitung kebaikan.
Orang-orang beriman yang sesungguhnya bahkan tidak mengharapkan ucapan
"terima kasih". Bagi mereka, keridaan Allah sudah lebih dari cukup.
Jika kita masih merasa sakit hati saat kebaikan kita tidak dihargai atau dibalas sekalipun, itu adalah
sinyal bahwa mungkin masih ada benih-benih transaksional dalam hati kita.
Bahaya
Menjangkiti Hubungan dengan Allah
Yang lebih
mengkhawatirkan adalah ketika sikap transaksional ini dibawa dalam hubungan
kita dengan Sang Pencipta. Ada sebagian dari kita yang menjalankan ibadah hanya
karena ingin "menukar" amalnya dengan dunia. Shalat Dhuha hanya
karena ingin kaya, sedekah hanya karena ingin dagangan laris, atau Tahajud
hanya karena ingin naik jabatan.
Tentu, berdoa
meminta dunia itu boleh dan dianjurkan. Namun, menjadikan dunia sebagai
satu-satunya motivasi dan tujuan beribadah adalah sebuah kerugian besar. Seolah-olah kita
menganggap Allah sebagai "mitra bisnis" yang wajib memberikan untung
atas modal ibadah yang kita setorkan. Padahal, Allah adalah Tuhan yang kita
sembah karena Dia layak disembah.
Nabi Muhammad
SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang sangat masyhur tentang
pentingnya niat:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا
لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا
يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju." HR. Bukhari (No. 1) & Muslim (No. 1907)
Jika niat kita
transaksional untuk dunia, maka mungkin kita dapat dunianya, tapi kita
kehilangan nilai di sisi Allah. Sayang sekali, bukan? Capek beramal, tapi tidak
jadi tabungan di akhirat, dan tidak jarang dunia yang kita inginkan pun tidak didapat.
Mengapa
Akhlak Transaksional Begitu Berbahaya?
Sahabat
sekalian, ada beberapa alasan mengapa pola pikir "ada udang di balik
batu" ini merusak tatanan hidup kita:
· Mudah Kecewa: Orang yang transaksional akan sangat mudah stres dan sakit hati
jika orang lain tidak membalas kebaikannya. Hidupnya bergantung pada respons
manusia, bukan pada janji Allah.
· Merusak Silaturahmi: Hubungan persaudaraan menjadi rapuh. Kita hanya mendekati orang
yang berpotensi memberi untung dan menjauhi orang yang sedang kesulitan karena
dianggap beban.
· Menghilangkan Keberkahan: Amal yang tidak ikhlas tidak akan membawa ketenangan jiwa. Hati akan selalu merasa kurang meski secara materi mungkin bertambah.
Terjebak Riya' dan Sum'ah: Karena ingin balasan (pujian atau imbalan), seseorang cenderung memamerkan amalannya agar diketahui orang lain.
Belajar
dari Akhlak Rasulullah SAW
Rasulullah SAW
adalah teladan terbaik (Uswatun Hasanah) dalam segala kondisi kehidupan. Beliau
tetap berbuat baik kepada siapapun, baik yang suka atau tidak kepada beliau, bahkan kepada orang yang jelas-jelas memusuhi beliau. Masih
ingat kisah seorang Yahudi yang setiap hari meludahi Nabi? Ketika orang tersebut
sakit, Nabi adalah orang pertama yang menjenguknya. Apakah Nabi mengharap
sesuatu dari orang Yahudi itu? Tidak! Beliau melakukannya karena itulah akhlak
Islam.
Islam
mengajarkan kita untuk "memberi
tanpa mengingat, menerima tanpa melupakan." Kita diajarkan
untuk menyambung tali silaturahmi justru kepada orang yang memutuskannya. Ini
adalah level tertinggi dalam berakhlak.
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ
الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
"Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi itu adalah orang yang membalas kebaikan (orang lain), akan tetapi penyambung silaturahmi itu adalah orang yang jika diputuskan hubungan kekerabatannya, ia menyambungnya." HR. Bukhari (No. 5991)
Hadits di atas
secara tegas membedakan antara "balas budi" (transaksional) dengan
"silaturahmi sejati". Kalau kita baik karena orang lain baik, itu
namanya perdagangan. Tapi kalau kita tetap baik saat orang lain buruk, itulah
akhlak yang benar.
Cara
Mengobati Penyakit Akhlak Transaksional
Mungkin
sebagian dari kita merasa, "Aduh,
sepertinya saya ada bakat begitu nih, tadz. Bagaimana cara
memperbaikinya?" Tenang, pintu taubat dan perbaikan selalu
terbuka. Berikut beberapa tips sederhana:
1. Sembunyikan Amal: Cobalah lakukan kebaikan yang tidak diketahui siapa pun kecuali
Allah. Sedekah sembunyi-sembunyi atau mendoakan teman tanpa sepengetahuannya.
Ini akan melatih otot keikhlasan kita.
2.
Luruskan Niat di Awal: Sebelum bertindak, tanya hati kecil kita, "Saya melakukan ini untuk apa?"
Jika muncul niat ingin dipuji atau dibalas, segera istighfar dan kembalikan
niat karena Allah.
3.
Ingat Janji Allah: Percayalah bahwa Allah tidak pernah tidur. Kebaikan yang kita
lakukan, sekecil apa pun, pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk yang Allah
kehendaki, bukan harus dalam bentuk yang kita inginkan.
4.
Belajar Ridha: Berlatihlah untuk tidak kecewa saat orang lain lupa berterima
kasih. Katakan pada diri sendiri, "Alhamdulillah,
urusan saya dengan Allah sudah selesai. Masalah dia mau balas atau tidak, itu
urusan dia dengan Allah."
Penutup:
Mari Menjadi Hamba yang Tulus
Sahabat-sahabatku
yang saya cintai karena Allah, dunia ini hanya sementara. Sangat melelahkan
jika setiap langkah kaki kita selalu dihitung dengan untung rugi materi. Mari
kita ubah mindset kita. Jadikan setiap kebaikan sebagai tabungan abadi di
akhirat.
Jangan biarkan
penyakit "itung-itungan amal" ini merusak keindahan ukhuwah kita. Mari kita
saling mencintai karena Allah, saling membantu karena Allah, dan saling
memaafkan karena Allah. Ingatlah, bahwa imbalan dari Allah jauh lebih besar,
lebih indah, dan lebih kekal daripada sekadar pujian atau balasan dari manusia.
Semoga Allah
SWT senantiasa membersihkan hati kita dari sifat riya, sum'ah, dan pamrih.
Semoga kita digolongkan sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlisin, yang beramal
semata-mata demi meraih wajah-Nya yang mulia.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
penulis:
Heri Santoso, S.Pd., Gr.

Mantaps tadz
BalasHapus